Kalau bukan karena kakakku, KH. Islahuddin, aku tak terbayang berkampanye sampai di puncak gunung yang luar biasa ini, Nanggrong Wonolelo, takkan kulupakan sebagai bagian dari ikhtiar yang kulakukan.Dijalan setapak yang hanya muat untuk dilewati satu kendaraan, pertemuan dengan para petani setempat yang menggarap lahan miring, sangat berkesan.
Warga yang polos dan bersahabat menyambut kami, ngobrol dengan sangat-sangat hangat, dalam pelukan udara dingin pegunungan, ditemani segelas teh yang diminum dengan makan gula jawa, sungguh nikmat. Dan tentu kami tak diperbolehkan pulang sebelum menyantap makan siang dengan sayur tahu dan dadar telor yang lezat.
Warga Nanggrong, thanks a lot!


